Minggu, 26 Desember 2010

PROSA DAN PUISI

PROSA DAN PUISI
Menurut kamus ilmiah, prosa diterjemahkan sebagai karangan bebas yang tidak terikat oleh irama dan rima. Sedangkan puisi diterjemahkan sebagai karangan (pendek) yang terikat oleh irama dan rima.
Dari defenisi diatas, jelas terlihat perbedaan antara prosa dan puisi hanya terletak pada adanya irama dan rima. Prosa dan puisi adalah sama-sama bentuk karya sastra yang memiliki banyak pengaruh dalam dunia sastra, namun keduanya tidak jarang pula mengandung muatan-muatan ideology baik budaya, moral dan agama sehingga para kritikus sastra tak jarang lemparkan argumentasi kritik terhada karya yang memiliki kecenderungan ideology yang dapat merusak tatanan kehidupan social serta citraan negative yang dapat terjadi dalam proses interpretasi.
Sebagai contoh dalam novel “Heat of Darkness” yang memberikan gambaran imformatif bagaimana sebuah karya dapat bekerja secara politik dengan cara yang sampai sekarang sama sekali belum teramati oleh para kritikus kebudayaan. Marlow menyatakan bahwa heart of darkness terlalu bersifat rasis dalam menggambarkan orang-orang Afrika, kritik yang dilontarkan Marlow lebih cenderung pada nilai imperialisme yang menampakkan kesenjangan antara realitas dan representasi realitas.
Namun, tidak juga semua karya mengandung unsure-unsur ideology, seperti dalam puisi “To Autumn” yang diklaim para pembaca sebagai sebuah karya yang terbebas dari kepentingan ideology, puisi tersebut hanya mengandung uraian objek tentang kenyataan yang sama sekali terlepas dari pemitosan, pemenuhan harapan, atau sikap tendensius dalam bentuk apapun, dalam puisi tersebut hanya mengisahkan suasana alami ketika kematian tampil cukup menonjol. Ini sangat berbeda dengan Heart of Darkness yang bersifat mengganggu, terbungkus didalam masalah ideologis.
Prosa dan puisi sebagai sebuah karya yang dinikmati oleh para pembaca juga dibedakan dalam hal kondisi dan suasana yang dirasakan pembaca ketika membaca sebuah prosa atau puisi. Sebagaimana dalam buku yang berjudul “berburu kata mencari Tuhan” menganalogikan bahwa sebuah prosa lebih enak ketika dibaca namun puisi lebih enak ketika dicerna, nikmatnya prosa terasa ketika dikunyah, nikmatnya puisi saat meresap kedalam hati sanubari. Mengapa hal tersebut terjadi? Tidak lain karena prosa mengisahkan peristiwa atau kejadian hidup serta berbagai pernik dimensinya dengan menggunakan pemaparan yang cenderung detail dan verbal. Sedangkan dalam puisi, yang disajikan hanyalah saripati peristiwa. Ibarat embun yang jatuh dimalam hari pada musim kemarau, maka dibalik keberadaan setetes embun saja kita dapat membayangkan serta menemukan bermacam nilai peristiwa kemanusiaan maupun alam semesta yang tak ternilai harganya.
Namun secara umum prosa dan puisi memiliki kekuatan tersendiri yang susah untuk dimengerti dengan rasio bahkan kadang membingungkan. Namun, hal itulah yang membuatnya terasa memiliki kekuatan estetika yang dalam.
Seperti dalam kumpulan prosa karya Afrizal Malna yang berjudul “seperti sebuah novel yang malas mengisahkan manusia” terdapat beberapa petikan kalimat serta deretan cerita yang tidak gramatikal dan terasa cenderung melayang dalam noktah interpretasi.
Begitupun juga dalam kumpulan puisi Riki Dhamparan Putra yang berjudul “percakapaan Lilin” terdapat beberapa puisi yang sarat makna tersirat dan melambung jauh dari batas ranah-ranah interpretasi rasional alamiah. Kadang terlihat sebagai puisi yang mengisahkan manusia, namun juga terasa bahwa puisi tersebut bercerita tentang gambaran perasaan hati yang tidak menentu.
Api yang tak mati, sudahkan kau
Basuh tangan yang menyulutnya seterik ini?
Barangkali dicelah jari itu masih ada sisa
Daging dan kukumu mungkin retak
Hingga tangismu yang suci sia- sia
Dihapus peluh orang banyak.
Namun sebagai mana dijelaskan dalam The Death Of Author bahwa interpretasi sebuah karya terlepas dari pengarang tak kala karya tersebut telah dipublikasikan ke dalam dunia pembaca, sehingga pengarang hanyalah symbol pencipta karya namun tidak mengikat para pembaca dalam hal interpretasi makna.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar